Liner Notes Dari Album Reuni Balcony

Pada satu malam di bulan Oktober 2011, di sebuah bar kecil di tengah Dago, Pengap dan panas, AC sudah tak berpengaruh. Ruang nampaknya tak lagi cukup menampung ratusan orang yang datang. Febby bersiap disudut kanan, Jojon dan Ramdan menyetel gitar mereka dan menyalakan ampli, Badik bergabung semenit kemudian dengan gitar bass nya. Seketika ‘Ini Sudah Cukup’ dimulai, Barus muncul entah darimana dan ruangan sekejap berubah menjadi neraka moshpit selama kurang lebih 40 menit. Nampaknya tak sulit untuk mengundang adrenalin lama dan bersenang-senang pada momen dimana kami semua sudah memiliki hidup masing-masing dan jarang bertemu.

Satu hari lalu Barus sempat berujar bahwa ide Balcony reuni itu tak mungkin dilakukan, karena Balcony memang sudah bubar dan tak akan pernah bisa bergabung lagi sebagai line-up permanen. Namun bukan berarti kita tidak bisa bersenang-senang untuk satu dua malam. Sembilan tahun setelah bubarnya Balcony, malam itu kali pertama Barus, Jojon, Febby, Ramdan dan Badik bertemu kembali dalam satu panggung. Tentunya banyak kawan dari era 90an juga datang menyaksikan, menyanyi dan menari. Balcony dan lagu-lagu mereka kadung sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Meski menemukan momen seperti ini tidak lagi semudah dahulu.

Paling tidak itu yang saya saksikan ketika mereka memanfaatkan kunjungan Jojon ke Bandung untuk melakukan gigs reuni, dan menemukan muaranya ketika Red Studio menawarkan mereka untuk merilis album baru.

Bagi ke lima Balcony mengunjungi lagi memori kolektif mereka dan kembali dalam satu ruangan, menulis lagu, bukan perkara mudah. Terutama karena rutinitas mereka yang sudah tidak lagi sama seperti dahulu. Febby dan Jojon sudah menjalani hidup di luar skena musik, Barus menggawangi Godless Symptoms-nya yang baru saja merilis album kedua mereka. Badik masih bersama Turtles Jr. Sedangkan Ramdan hari ini telah menjadi bagian dari salah satu grup HC/metal terbesar di tanah air, Burgerkill.

balcony_small

Namun saya menyaksikan bagaimana passion dan kesenangan melibas hambatan dan keraguan. Pengalaman berlatih sebelum gigs, moshpit dalam ruangan pengap, dan momen berkumpul di suatu malam bersama kawan-kawan scene era 90an dan kamerad baru era 2000-an memberi mereka amunisi untuk mengalahkan kepesimisan bahwa sulit bagi mereka untuk menyelesaikan sebuah album.

Sekumpulan lagu dalam mini album ini adalah hasil maksimal dari proses itu. Mengingatkan kami kembali bagaimana kami semua bertahan dan bagaimana scene kota ini berjalan melampaui waktu dimana banyak hal berubah dan banyak yang tetap sama. Waktu-waktu yang melatarbelakangi lagu-lagu lama Balcony ditulis. Karena saya yakin, mereka tak sekedar ingin bernostalgia dengan waktu lampau. Berusaha melampaui romantisme, dengan memberinya marka pengingat untuk menghidupi sisa waktu ke depan dengan hasrat di era tertentu, dengan adrenalin yang hadir di tengah moshpit neraka di ruangan pengap malam itu. Dimana hidup tak pernah dibiarkan redup dan menyerah begitu mudahnya pada waktu.

ditulis sebagai fans dan sahabat mereka, Cihampelas, 2011
– Morgue Vanguard