Liner Notes Untuk Reissue Album Pertama Homicide “Godzkilla Necronometry”

EP ini kami rekam dan rilis di tahun 2002. Meski demikian, lima lagu di dalam EP ini ditulis dalam rentang waktu berbeda selama kurun waktu 1998 hingga 2002, dan bisa dikatakan merangkum apa yang kami lakukan dengan hiphop selama babak 5 tahun kedua kami sejak memutuskan membuat kolektif Homicide di tahun 1994.

Mungkin pula di situ lah letak pentingnya pendokumentasian. Kemungkinan besar, saya pun tak yakin akan mengingat materi-materi album ini jika saja tak pernah merekam dan merilisnya dalam bentuk kaset dahulu. Terlebih detail-detail penulisan lagu dan momen-momen yang melatar-belakanginya.

Cukup jelas teringat, momen awal mini album ini dimulai ketika kami selesai berdebat perihal sepele; mengapa kami harus berhenti menulis lirik dalam bahasa inggris dan mulai menulis lagu dalam bahasa Indonesia, dengan totalitas gaspol. Lephe agak keberatan. Eksplorasinya mentok, ujarnya satu hari. Saya selalu berfikir, mungkin hal itu yang membuatnya mengendurkan intensitasnya sebelum kemudian menarik diri di tahun 2001.

Dua lagu di EP ini merupakan sisa dari era Lephe tersebut, ‘Altar Ruins’ dan ‘From Ashes Rise’ adalah lagu terakhir berbahasa inggris kami, satu lagi ‘The Requiem’, kami masukan ke dalam kompilasi Mempetisi Langit, yang merupakan proyek benefit bagi community crisis center saat bencana Tsunami Aceh terjadi beberapa tahun kemudian.

Kami berkesempatan mendengar kembali materi ini setelah sekian lama, tepatnya saat melakukan proses remastering beberapa bulan kemarin. Setelah mendengarnya kembali, kami baru menyadari bahwa tak ada satu pun lagu yang utuh kami tulis dalam satu waktu, hingga pada akhirnya tiba saatnya kami merekamnya. Bahkan untuk beberapa lagu, kami masih sempat merubah dan memodifikasinya sedemikian rupa di detik-detik akhir sebelum masuk booth rekaman.

Homicide_Live_small

EP ini awalnya berjumlah lebih dari 5 lagu. Kami menulis sekitar delapan hingga sepuluh lagu selama 1998-2002. Namun atas banyak faktor (terutama faktor finansial dimana kami hanya bisa menyewa studio rekaman dalam shift terbatas) maka kami mengupayakan cara yang efektif agar hasil yang terekam dapat maksimal. Maka mulailah kami menyeleksi rima demi rima, bar demi bar sedemikian rupa sehingga tak ada satupun line atau punchline terbaik kami terbuang tak terekam. Artinya, ketika kami sepakat dengan lima lagu ini, sisa lagu lainnya otomatis tidak terpakai sama sekali alias sudah tak utuh menjadi lagu karena bagian-bagiannya kami pakai di lima lagu ini. Kami sangat mengharamkan pengulangan punchline dan metafor dalam dua lagu berbeda bahkan yang mendekati atau nyerempet-nyerempet sekalipun.

‘Boombox Monger’ merupakan gabungan dua lirik lagu yang kami seleksi ulang bar demi bar. Kami kala itu terobsesi membuat lagu manifesto pertama kami. Semacam ‘Rebel Without A Pause’ atau ‘Beats to the Rhyme’ versi lokal, versi kami. Entah berapa kali kami reka ulang, namun yang pasti pertama kali kami eksekusi sesaat setelah Tragedi Semanggi II. Potongan rima “Pasca molotov terakhir terlempar di Semanggi“ cukup menjadi marka pengingat waktu bagi saya; di pagi hari setelah semalam sebelumnya diburu Brimob dalam sebuah perang molotov di depan lapangan Gasibu, Bandung di bulan September 1999 pada sebuah aksi penolakan terhadap rencana pemerintah yang akan mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya yang sarat nuansa fasis dan ditunggangi kekuatan laten militer. Pagi itu kami mendengar kabar adanya korban tewas di Semanggi, Jakarta, Yun Hap yang hingga sekarang bernasib sama dengan semua korban kebengisan dan kesewenang-wenangan militer di era itu; tak pernah ada peradilan dan dilupakan waktu.

Seiring dengan waktu pula, lirik lagu itu kami rubah meski tak banyak, karena relevansi cukup penting bagi kami. Itulah karenanya, mengapa kemudian kalimat “lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika® “, juga frase ‘Seattle dan Praha’ muncul pada versi terakhir, sebagai representasi semangat anti-neoliberalisme di penghujung milenium sebelum kemudian tragedi 9-11 merubah semuanya dan ‘terorisme’ menjadi kata yang sangat akrab dalam keseharian di awal 2000-an hingga hari ini.

Begitu pula dengan ‘Puritan’. Banyak yang mengganggap lagu ini dibuat di pertengahan 2000-an, mungkin karena topik fundamentalisme agama yang kami tulis mulai menyeruak di media mainstream pada era itu. Namun sebenarnya lagu ini mulai kami tulis pada tahun 1999, jauh hari sebelum banyak orang menyadari ada kekuatan besar dibalik fundamentalisme agama dan politik ‘anti-terorisme’ yang digembar-gemborkan negara dan Densus-nya. Kala itu marak pemberangusan tempat aktivitas komunitas dan pembakaran buku-buku ‘kiri’. Militer cukup kencang mempropagandakan ini sebagai bagian dari propaganda anti-komunisme yang tentunya merupakan bagian dari paket propaganda kounter mereka terhadap isu demiliterisasi pasca Suharto turun. Kita semua belakangan tahu, siapa yang berdiri dibelakang dan mensponsori aksi-aksi pemberangusan itu, sebelum kemudian mereka sendiri kehilangan kontrol atas ormas-ormas fundamentalis yang mereka asuh.

Lirik ‘Puritan’ mengalami cukup banyak perubahan dalam hal pemakaian metafor dan nama-nama seiring waktu berjalan. Proses mereka-reka ulang lirik ini berhenti ketika tragedi Gampingan terjadi di tahun 2000, dimana sekelompok massa yang menamakan Front Anti-Komunis menyerang markas kawan-kawan Taring Padi ketika itu dan seorang kawan di Bandung yang berkunjung kesana terpaksa diangkat limpanya karena tertusuk tulang rusuk setelah diinjak-injak gerombolan itu tanpa belas kasihan. Kami ingat beberapa hari sesudahnya, lirik ‘Puritan’ ini kami rampungkan dan tak pernah kami rubah-rubah lagi hingga saat merekamnya.

‘Altar Ruins’ merupakan track yang paling banyak mengalami perubahan lirik menjelang masuk studio. Tema kritik terhadap ‘demokrasi’ yang awalnya menjadi ide dasar lagu itu berubah menjadi rima sporadis tentang ‘ideologi’ termasuk kritik total terhadap ideologi kiri. Saya yakin hal ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh situasi kala itu dimana konflik kami dengan Partai Rakyat Demokratik memuncak, terutama setelah komentar-komentar bodoh elit partai mereka (seperti Faisol Reza, misalnya) yang semakin menyiratkan watak otoritarian khas Marxisme-Leninisme yang mereka usung. Barus Balcony yang saat itu ada di studio kami minta untuk mengisi vokal di bagian terakhir lagu yang kami rasa perlu di isi suaranya.

Begitu pula track battle ‘Semiotika Rajatega’, yang awalnya bertitel ‘El-Hiphop Es Muerto’, merupakan versi update dari yang kami bawakan pada saat acara X-Freedom di tahun 2000 yang memicu kontroversi dan konflik antara kami dengan hampir seluruh grup rap di Indonesia kala itu. Sedangkan ‘From Ashes Rise’ merupakan track yang paling cepat kami tulis dan eksekusi di dalam studio, tepat di shift pamungkas di hari terakhir. Dengan sengaja, tak satupun lagu yang kami pasangkan chorus, saat itu kami benar-benar ingin melampaui semua hal konvensional yang melekat pada musik hiphop (lokal) termasuk dalam hal penulisan rima dan struktur lagu.

Satu hal lain yang sempat membuat kami menunda merekam materi-materi kami saat itu, selain hal finansial, adalah faktor DJ. Ini cukup rumit bagi kami yang bersikukuh untuk tetap menghadirkan elemen turntablism dalam rekaman kami, terutama sejak Kiki (DJ pertama kami) mengundurkan diri di tahun 1999 dan nyaris tak tergantikan hingga kami menemukan Iwan aka DJ-E di acara reguler Hiphop Kaki Lima yang biasa digelar oleh kawan-kawan di scene hiphop Bandung sejak tahun 2001. Kala itu ia belum lah lulus SMA. EP ini bagi Iwan merupakan rekaman studio pertamanya, sebelum kemudian ia bergabung di kolektif turntablist Bandung, Cronik dan menjuarai DJ Battle nasional dan menjadi DJ profesional.

Secara musikal, mendengarkan kembali album ini mengingatkan kami kembali pada apa yang kami obsesikan saat itu. ‘Boombox Monger’ merupakan manfestasi keinginan kami untuk membuat track yang seabrasif Company Flow dengan intensitas Organized Konfusion, kala itu Funcrusher Plus dan Extinction Agenda merupakan kitab suci kami yang berperan besar dalam memberi inspirasi untuk mengacak-acak struktur konvensional hiphop dan keluar dari stigma ‘lagu politis’.

Meski demikian kami akui tak pernah bisa keluar dari sound The Bomb Squad/Public Enemy yang sudah masuk alam bawah sadar kami. Mungkin itu alasan mengapa pada ‘Boombox Monger’ kami ngotot memakai breaks Funky Drummer dalam BPM rendah yang kami kawin paksakan dengan snare dan kick 808 ala Company Flow. Atau dalam setengah bagian terakhir dari ‘Puritan’ dan seluruh bagian dari ‘Semiotika Rajatega’ dan ‘From Ashes Rise’. Eksperimen ini cukup membuat sang engineer pusing dan bersikap senewen terhadap kami sepanjang proses mixing. Mungkin karena kami cerewet dan banyak omong, atau mungkin karena kami minta diskon. Mungkin pula gabungan keduanya.

Pada detik terakhir proses rekaman, kami merasa beberapa track ini masih terasa kosong meski saya telah menyusun beragam layer noise dan memaksimalkan 808 yang ada. Jojon yang pada saat itu kebetulan berada di studio, kami minta untuk mengisi gitar pada lagu ‘Boombox Monger’, ‘Altar Ruins’ dan ‘From Ashes Rise’. Dengan segala keterbatasan alat dan tehnik rekaman, inilah yang bisa kami hasilkan pada saat itu, tentu sangat jauh dari apa yang kami harapkan namun kami cukup puas dengan apa yang kami dapatkan pada saat itu.

Faktor duit pula yang mengantarkan kami pada cerita lain perihal produksi materi EP ini. Ketika proses rekaman berjalan, Balcony sudah merampungkan materi untuk album ketiga mereka dan memiliki sisa lagu yang tak termuat dalam album tersebut. Barus dan kawan-kawan menawarkan ide untuk merilis split album ketika mereka mendengar kami kehabisan uang untuk memperbanyak album ini dalam bentuk kaset. “Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan“ akhirnya kami rilis, sebelum kami merilis materi EP ini dalam bentuk kaset tersendiri tak lama kemudian. Dalam jumlah terbatas dan dalam format kaset, EP ini juga dirilis di Malaysia oleh Papakerma Records dan di Amerika oleh Arise Collective Records, dua label DIY yang kami sering berkorespondensi kala itu.

Tentunya, seiring berjalannya waktu, beberapa hal yang muncul dalam EP pertama kami ini sudah tak relevan meski banyak pula yang masih. Fasisme yang datang dari fundamentalisme agama, militerisme, premanisme ormas kepemudaan, akumulasi primitif dan penindasan korporasi masih eksis jika tidak bisa disebut bertambah buas. Pengkooptasian gerakan akar rumput, pemberangusan gerakan prodem dan despotisme lokal masih seperti sebelum kami merekam album ini bahkan bisa kita anggap telah memasuki babak baru ketika scene lokal secara memuakkan terlibat pada politik kotak suara dan parlementer, gadang menggadang calon pemimpin.

EP ini merupakan rilisan vinyl pertama bagi label kami sekarang, Grimloc Records. Proses merilis vinyl ini sungguh bisa dibilang menyebalkan. Mungkin ini pengalaman pertama kami, sehingga beberapa kendala dari soal pengiriman hingga bea cukai cukup membuat kami migren berbulan-bulan, dan terus terang kami gagal untuk membuat harga jual vinyl ini menjadi terjangkau semaksimal mungkin.

Pada prosesnya, pada proyek ini kami berhutang banyak pada bantuan sahabat kami di Grieve Records, Uri dan Sayiba. Hamzah, rekan lama kami di Semarang yang melakukan proses remastering dan berjasa membuat sound dari mentahan lama EP ini agak terangkat dari lumpur. Riyandi, salah satu artist lokal favorit kami yang melukis ulang sampul ini dengan interpretasinya di atas kanvas 1,5 x 1,5 m. Tanpa mereka semua, reissue album ini sulit direalisasikan.

Mungkin sekian pengantar basa-basi kami. Sebagai catatan tambahan, kami memang berencana merilis semua EP Homicide dalam format vinyl, satu persatu. Sebuah usaha yang berhulu pada niat lama sejak era Lephe & Kiki, yang baru sekarang bisa kami realisasikan hari ini, dan bermuara pada rangkaian usaha mempertahankan sebuah public space/ruang alternatif/toko buku yang kami miliki di Bandung yang hari ini sekarat dan segenap kawan mengupayakan usaha terbaik mereka untuk berkontribusi. Merilis ini adalah salah satu versi kami.

Terima kasih sudah membaca ini dan memberi kami dukungan selama Homicide eksis bahkan setelah kami bubar. Keep putting the impossible into a test. Stay free, stay active.

Morgue Vanguard & Sarkasz
March 2013.