“Distrik21”: Pelengkap Kepingan Dramaturgi Kekejaman Kota A la Blakumuh

Catatan: Ini merupakan catatan pendamping bagi track Blakumuh “Distrik 21” yang juga terdapat pada booklet berformat pdf dalam zip unduhan yang dapat diunduh disini.

 

Menunggu, untuk tujuan apapun adalah hal yang menyebalkan. Terlebih untuk menunggu sebuah jawaban. Ketika duduk di bangku akhir sekolah dasar, sekitar tahun 1996-1998, saya memiliki seorang kakak yang gemar mencekoki saya dengan musik Rap. Metode yang digunakannya banyak. Mulai dari menyeret saya menuju pusaran wabah Iwa. K, sampai rutinitas bersama mendengarkan tape Pesta Rap dalam volume kencang. Hasilnya, saya terjangkit dan menjadikan dua figur itu sebagai idola.[1] Waktu mulai berjalan.

Iwa tidak pernah menarik saya terlalu dalam. Justru Pesta Raplah yang berhasil membuat saya tertarik cukup dalam. Apa yang membuat saya lebih tertarik pada Pesta Rap, dalam taraf keterbatasan pengetahuan saya sebagai anak tanggung saat itu, adalah karena cakupan tema sepele di dalamnya. Saya bisa menemukan keluhan atas perempuan matre, cerita mengenai rumah hantu, gangguan para nyamuk, sampai pager salah sambung yang menjadi persoalan besar dalam Pesta Rap. Singkatnya persoalan sepele tersebut justru membuat Pesta Rap terasa sangat dekat dengan realitas saya sebagai seorang anak tanggung yang tengah mencari dunia dan ketertarikannya.

Toh, nyatanya tidak semua persoalan dalam Pesta Rap adalah persoalan sepele sejak saya membaca ulang lirik sebuah kolektif yang turut mengisi Pesta Rap 1 dan 3, Blakumuh, yang berjudul “Kaum Kumuh” dan “S.O.S”. Di kala sejawat mereka dalam kompilasi menyuarakan hal-hal sepele, Blakumuh justru menyuarakan kepedulian serta keresahan orang-orang tersingkir dalam balutan lirik yang, saat itu, masih belum spesifik.

Bagi saya, selepas membaca kembali lirik-lirik Blakumuh, apa yang mereka tulis dalam liriknya meninggalkan pertanyaan. Selain karena mereka belum menyertakan unsur yang konkret dan spesifik dalam liriknya, saat itu saya juga masih seorang anak tanggung yang gemar menafsirkan lirik agar terlihat keren di mata teman-teman saya tanpa metode atau teori yang spesifik pula. Semuanya masih serampangan. Tapi dari situlah awal saya melakukan pekerjaan membosankan yang saya gunakan sebagai pembuka paragraf tulisan ini. Menunggu. Sedang waktu terus berjalan.

Selama berjalan dan membuat saya menunggu, waktu juga menempa saya untuk menggali lebih dalam apa yang sebenarnya Blakumuh coba sampaikan melalui “Kaum Kumuh” dan “S.O.S”. Ia menuntun saya untuk memberikan petunjuk bahwa dua nomor tersebut berkaitan sebagai sebuah instalasi dalam menyuarakan suara orang tersingkir yang kehilangan ruang hidup. Mereka ada di sekitar kita, dan membutuhkan kepedulian dari kita. Tapi “siapa, apa yang menyebabkan mereka kehilangan ruang hidup, dan di mana mereka kehilangan ruang hidup” tak pernah bisa dijawab oleh dua nomor tersebut. Waktu tidak dapat memberikan jawaban yang tuntas, karena memang Blakumuh belum berniat menuntaskan instalasi tersebut.

Selain menempa, waktu juga menuntun saya untuk berkenalan dengan dramaturgi. Baik penggunaannya dalam ranah sastra maupun dalam ranah sosiologi. Dalam ranah sastra, dramaturgi adalah penaikturunan tensi dalam sebuah narasi untuk mencapai klimaks. Sedang dalam ranah sosiologi, dramaturgi diperkenalkan oleh Goffman dalam  The Presentation of Self in Everyday Life sebagai penyajian presentasi manusia melalui nilai kultural, norma, dan kepercayaan yang bergantung pada elemen-elemen interaksi manusia yang saling berkaitan dengan waktu, tempat, dan manusia lain. Waktu menuntun saya untuk mengenal metode dan teori, sehingga saya tidak lagi serampangan.

*

Pada sebuah gigs kecil di Purwokerto awal April 2015 ini, waktu memberikan saya kesempatan untuk menyaksikan Doyz dan Erik Probz, sang legenda itu sendiri, Blakumuh, berada di satu panggung membawakan “Kaum Kumuh”, “S.O.S”, dan sebuah nomor bertajuk “Distrik21”. Gigs saat itu ditopang dengan soundsystem seadanya. Telinga saya hanya bisa mengangkap samar-samar chorus berbunyi “Tempat lahirku, kebanggaanku, Distrik21. Di mana mimpi, deklinasi, dan depresi menyatu, Distrik21”. Kali itu waktu benar-benar mendorong saya ke batas pencarian jawaban saya.

Keyakinan saya tak terwujud layaknya percintaan dalam FTV, bak gayung bersambut. Waktu kembali menunda penemuan jawaban saya sampai Agustus 2015, saat Doyz merilis album solo keduanya, “Oblivion”.

Akhirnya pertanyaan saya terjawab ketika saya menghadapi sleeve lirik “Distrik21” dalam album “Oblivion”. Nomor tersebut adalah kepingan terakhir yang menjawab pertanyaan “siapa, apa yang menyebabkan mereka kehilangan ruang hidup dan di mana mereka kehilangan ruang hidup” seperti yang saya tulis di atas.

Kota adalah unsur terakhir yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan saya selama ini. Kota yang dalam “Distrik21” diletakan sebagai elaborasi unsur-unsur dramaturgi sosial yang alpa dalam “Kaum Kumuh” dan “S.O.S”. Kota adalah tempat, waktu, nilai kultural, norma, dan kepercayaan yang beralih bentuk menjadi kolaborasi mematikan para korporat, preman dari kelas kakap sampai kelas teri, aparat, hingga para kaum kumuh itu sendiri untuk menciptakan aturan tidak tertulis yang harus ditaati untuk dapat bertahan dalam ruang hidup mereka. Bila seseorang tidak mampu menaati atau berkompromi dengannya, maka bisa dipastikan ia akan menjadi “Kaum Kumuh” yang tersingkir. Kota itu bernama Jakarta.

Beberapa line seperti “Dada jenderal mebusung, IMF datang menikam/Garis terdalam agraris habis terokupasi”, “Rakyat kurus kering butuh lebih dari suplemen/Terlalu sibuk gemukkan anggota parleman/Satu tiran runtuh, muncul seribu”, dan “Saat oknum birokrat merambah lokasi prostitusi/Bromocorah saling bacok rebutkan lahan parkir/Bandit pemerintah kongsi dengan naga partikelir” semakin menguatkan bagaimana kota adalah kepingan terakhir yang menciptakan keberadaan kaum kumuh sekaligus memaksa mereka untuk memekikan S.O.S.

Melalui nomor tersebut, Blakumuh sukses menghadirkan piledriver untuk menjawab pertanyaan tak terjawab dalam benak saya selama ini. Pun dengan menghadirkan kota sebagai unsur terakhir dalam instalasinya, mereka sukses mengkomplitkan instalasi belum rampung mereka menjadi instalasi komplit bertajuk kekejaman sebuah kota dalam menyingkirkan orang-orang tersudut dalam perebutan ruang hidup.

Mendengarkan “Distrik21” secara wholistik[2] menjadi suatu yang esensial karena secara dramaturgi sastra kita akan mendapati bagaimana Blakumuh sukses meningkatkan tensi lirik pada penutup kepingan terakhir instalasinya. Hal tersebut praktis dibutuhkan karena Blakumuh mengejar sebuah jawaban yang lama absen menahun melalui sebuah rangkaian diksi yang klimaks. Tak hanya itu saja, tajamnya diksi dalam setiap lekuk “Distrik21” juga melengkapi unsur dramaturgi sosial yang alpa dalam lirik-lirik “Kaum Kumuh” dan “S.O.S”. “Distrik21” selain sukses menjawab pertanyaan saya juga sukses menjadikan “Kaum Kumuh”, “S.O.S”, dan dirinya menjadi rangkaian instalasi yang tak terpisahkan mengenai bagaimana kekejaman sebuah kota menciptakan lalu menyingkirkan orang-orang yang sudah kadung tersingkir dalam perebutan ruang hidup.

Tapi, menjadikan “Distrik21” maupun album “Oblivion” sebagai euforia yang lantas memberhentikan penantian atas resureksi Blakumuh saya pikir merupakan pilihan yang bodoh. Mengingat dalam Oblivion, di mana Doyz untuk kedua kalinya menggandeng Erik Probz dalam Blakumuh melalui “Prosa Wangsa”, mereka berdua secara provokatif lantang menantang “Jangan berani tuk test beradu nyali/Karena kalian tahu kita tak pernah habis energi/Blakumuh masih ada”.

“Distrik21” hanyalah sebatas pelengkap instalasi dan jawaban atas pertanyaan yang ditinggal menahun. Sedang “Oblivion” cuma sebatas ramalan kecil penuh tanda tanya mengenai desas-desus resureksi Blakumuh. Tapi “Prosa Wangsa”, dengan diksi pivotal di dalamnya yang memiliki kekuatan destruktif setara dengan Kaiju level 5, adalah petunjuk atas pertanyaan selanjutnya yang mungkin hadir berupa: “alat berat apa yang akan digunakan Blakumuh untuk menggugurkan tembok tinggi tradisi hip-hop suram yang terlanjur mengakar?”[3]. Karena Blakumuh dengan lantang berteriak bahwa mereka masih ada, maka saya akan kembali bergelut dengan waktu dan penantian untuk mencari setiap jawaban dari pertanyaan yang muncul dari instalasi karya-karya mereka selanjutnya. Ingat, Blakumuh masih ada!

[1] Saking polosnya, saya dahulu menganggap Pesta Rap adalah nama figur/artis. Saya baru mengerti bahwa Pesta Rap adalah album kompilasi yang berisi beberapa unit rap setelah saya masuk sekolah menengah pertama.

[2] Wholistik yang saya maksud di sini bukan secara musikal maupun lirik, melainkan wholistik dalam perspektif dramaturgi dalam pengertiannya di ranah sastra dan ranah sosiologi.

[3] Pertanyaan tersebut berasal dari pernyataan dalam potongan lirik nomor “Prosa Wangsa” di album “Oblivion” milik Doyz.