Mendokumentasikan Geliat, Marwah Hip Hop dan Jejaring Pertemanan*

* Tulisan pengantar pada kompilasi hip hip “Pretext for Bumrush”, yang kami rilis bersama Def Bloc Union.

Hip hop lokal memasuki rentang waktu paling krusialnya, sekaligus pula terbaiknya dalam 3 tahun terakhir. Bukan karena perhatian media yang sedemikian rupa banyak menyorot genre musik ini belakangan. Namun karena beberapa hal lain yang sangat layak dicatat hari ini.

Pertama, bagaimana hip hop berdiaspora sedemikian rupa muncul di tempat-tempat yang tak lagi didominasi kota-kota besar di Jawa. Menyebar mulai dari Aceh hingga Pulau Bangka, Balikpapan, Flores hingga Papua. Ini patut digaris bawahi mengingat peran media hip hop lokal yang nyaris absen dalam hal penyebaran ini. Belum pernah ada di era sebelumnya, hip hop menjadi begitu menyebar, seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan informasi mengenai hip hop lebih mudah dan cepat diakses, lagu lebih mudah disebarkan dan para pelakunya lebih intens lagi berinteraksi tanpa harus ada kontrol monolitik dari industri seperti era-era sebelumnya.

Kedua, tak pernah pula keragaman hip hop lokal menjadi sevariatif hari ini. Eksposur media memang tak pernah beranjak jauh dari apa yang sedang populer, tak bisa juga disalahkan, itu tugas mereka. Namun bila kalian sedikit berniat mencari tahu lebih jauh, kalian akan mendapatkan hip hop dengan varian yang sangat luar biasa dengan hanya bermodal selancar di Soundcloud atau Youtube, misalnya.

Ketiga, dan yang paling penting, hip hop lokal mencapai level krusial dalam wilayah estetika. Dengan bantuan perkembangan teknologi pula, hip hop lokal dapat jauh berkesperimen dengan bebunyian. Sesuatu yang sulit dicapai di dua dekade lalu, dan dirintis berkembang sejak 10 tahun lalu. Dalam 3 tahun terakhir pula kita menyaksikan munculnya generasi baru yang jauh lebih serius lagi menggarap hip hop sebagai artform. Mereka bereksplorasi pada flow dan diksi. Lebih serius lagi mengasah karakter, menggodog tematik dan menggarap rima rap hingga level kedalaman teknis yang belum pernah dicapai dalam sejarahnya menggunakan bahasa Indonesia.

Ketiga alasan tadi tentu hanya sekedar poin-poin yang biasa saja bila kita hanya melihatnya terlepas dari geliat sebenarnya di luar sana. Para rapper, DJ dan beatmaker ini tumbuh berkomunitas. Kalian akan menemukan kumpulan-kumpulan, grup-grup di habitat-habitat berbeda sesuai kenyamanan dan kepentingan mereka. Crew, click dan posse. Hadir sedemikian rupa secara organik menghasilkan infrastruktur mereka sendiri.

Apa yang kami kumpulkan ini merupakan dokumentasi geliat tersebut, versi kami tentunya. Karena kami yakin, rekan-rekan lainnya mempunyai versi mereka sendiri-sendiri dalam hal mencatat fenomena ini.

29 lagu dalam kompilasi ini datang dari individu-individu dengan beragam latar belakang yang disatukan oleh satu visi tentang marwah hip hop yang sama. Hip hop yang tak hanya beranjak di masa keemasan 90-an namun pula mampu melampauinya, menjadikannya lebih dari hanya sekedar nostalgia. Sebaliknya pula, hip hop yang progresif yang berakar pada akar pencapaian estetika dan pengalaman di waktu lampau.

Bagi kami, geliat perkembangan estetika dan komunitas pertemanan ini perlu kami rayakan, dalam bentuk yang paling sederhana adalah kompilasi ini. Mendokumentasikannya agar, (seperti halnya album-album kompilasi independen di waktu lampau yang pernah ada), pada suatu hari kita bisa menengok ke belakang bahwa pernah ada waktu pencapaian diraih dengan cara intim dan bersenang-senang seperti ini, dan kami jadikan tonggak untuk sekedar melihat jembatan mana lagi yang bisa dibangun dan dilewati (meski kemudian dibakar), agar bisa mencapai tonggak-tonggak lain di waktu ke depan. Sebagai catatan kolektif tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah komunitas dalam rentang waktu tertentu.

Kompilasi ini secara teknis pula merupakan sebuah upaya kontribusi kolektif untuk menggalang dana yang rencananya akan kami salurkan pada gerakan literasi otonom yang selama ini diinisiasi oleh teman-teman di jejaring Perpustakaan Jalanan yang tersebar di berbagai kota. Dari Medan, Palembang, Bandung, Yogya, Malang dan kota-kota lain. Kami berharap pencapaian ini pula bisa bersinergi dengan gerakan-gerakan mandiri lain yang hari ini hadir sebagai alternatif di luar sana.

Atas nama Grimloc, Def Bloc dan jejaring pertemanan yang menghasilkan album ini.

Bandung, 15 November 2017
Morgue Vanguard & Senartogok